Tuesday, 11 December 2012

Sistematika Kurikulum 2013

Seperti apa isi Kurikulum 2013? Berikut bahan untuk di-download melaui tautan di bawah. Kurikulum baru ini terdapat perubahan dalam jumlah mata pelajaran dan penambahan jam pelajaran. 

Dalam masa Uji Publik, masyarakat bisa memberi masukan berupa saran atau kritik mengenai substansi kurikulum. Masukan yang ada ini tidak akan mengubah kebijakan mengenai "berlaku" atau tidaknya Kurikulum 2013. Karena, kemendikbud sudah bulat untuk melaksanakan Kurikulum 2013 sebagai suatu peningkatan dalam pendidikan nasional.

Draf Kurikulum 2013 yang diluncurkan dalam uji publik berisi bahan-bahan dengan sistematika sebagai berikut:

  1. Kata Pengantar
  2. Strategi Peningkatan Capaian Pendidikan 
  3. Rasional Pengembangan Kurikulum 
  4. Kerangka Kerja Pengembangan Kurikulum  
  5. Elemen Perubahan Kurikulum 
  6. Standar Kompetensi Lulusan 
  7. Strategi Implementasi 
  8. Kurikulum Pendidikan Tinggi 
  9. Struktur Kurikulum 
  10. Contoh Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar 
  11. Contoh Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar 
  12. Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi Kurikulum 
  13. Jadwal Uji Publik  
Draf Kurikulum 2013 dapat diunduh di sini

Elemen Perubahan Kurikulum 2013

Beban belajar/jumlah jam pelajatan Kurikulum 2013 akan bertambah dan mata pelajaran berkurang. Hal baru sebagai perubahan kurikulum yang menjadi ciri Kurikulum 2013 adalah menyangkut 4 standar pendidikan, yakin SKL, Standar Proses, Standar Isi, dan Standar Penilaian. Kemepat standar ini dirumuskan dalam 7 elemen sebagai berikut: 
  1. Kompetensi Lulusan 
  2. Kedudukan Mata Pelajaran (ISI) 
  3. Pendekatan (ISI) 
  4. Struktur Kurikulum (Matapelajaran dan alokasi waktu) (ISI) 
  5. Proses Pembelajaran Penilaian 
  6. Penilaian 
  7. Ekstrakurikuler 

Berikut uraian keempat elemen perubahan dimaksud yang masuk dalam bahan Uji Publik Kurikulum 2013. 


1. Kompetensi Lulusan 

• Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan


2. Kedudukan Mata Pelajaran (ISI) 

• Kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah menjadi matapelajaran dikembangkan dari kompetensi.


3. Pendekatan (ISI), kompetensi dikembangkan melalui 

• SD : Tematik Integratif dalam semua mata pelajaran 
• SMP : Mata pelajaran 
• SMA : Mata pelajaran wajib dan pilihan 
• SMK : Mata pelajaran wajib, pilihan, dan vokasi 


4. Struktur Kurikulum (Matapelajaran dan alokasi waktu) (ISI)

SD 
•Holistik berbasis sains (alam, sosial, dan budaya)
• Jumlah matapelajaran dari 10 menjadi 6
• Jumlah jam bertambah 4 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran

SMP 
• TIK menjadi media semua matapelajaran 
• Pengembangan diri terintegrasi pada setiap matapelajaran dan ekstrakurikuler 
• Jumlah matapelajaran dari 12 menjadi 10 
• Jumlah jam bertambah 6 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran 

SMA 
• Perubahan sistem: ada matapelajaran wajib dan ada matapelajaran pilihan 
• Terjadi pengurangan matapelajaran yang harus diikuti siswa 
• Jumlah jam bertambah 2 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran 

SMK 
• Penyesuaian jeniskeahlian berdasarkan spektrum kebutuhan saat ini 
• Penyeragaman mata pelajaran dasar umum 
• Produktif disesuaikan dengan tren perkembangan Industri 
• Pengelompokan mata pelajarn produktif sehingga tidak terlau rinci pembagiannya 


5. Proses Pembelajaran

• Standar proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. 
• Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat 
• Guru bukan satu-satunya sumber belajar. 
• Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan 
  • SD : Tematik dan terpadu 
  • SMP : IPA dan IPS masing-masing diajarkan secara terpadu 
  • SMA : Adanya mata pelajaran wajib dan pilihan sesuai dengan bakat dan minatnya 
  • SMK : Kompetensi keterampilan yang sesuai dengan standar industri 

6. Penilaian 

• Pergeseran dari penilain melalui tes [mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja], menuju penilaian otentik [mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil] 
• Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal) 
• Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL 
• Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama Penilaian 


7. Kegiatan Ekstrakurikuler 
SD : Pramuka (wajib), UKS, PMR, Bahasa Inggris 
SMP/SMA/SMK : 

• Pramuka (wajib), OSUS, UKS, PMR, dll. 
• Perlunya ekstra kurikuler partisipasi aktif siswa dalam permasalahan kemasyarakatan (menjadi bagian dari pramuka)

Monday, 21 December 2009

Kualitas Pendidikan Tinggi Indonesia Tertinggal Jauh


Perguruan-perguruan tinggi di Indonesia perlu melakukan kerjasama internasional dengan universitas di luar negeri Selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas, hal itu juga demi daya saing.


Sampai saat ini, belum ada lembaga pendidikan di Indonesia yang masuk dalam kategori 200 universitas terbaik dunia versi lembaga pemeringkat ternama The Times Higher Education-QS World University (The-QS World University).

Sementara itu, Global Competitiveness Report 2009/2010, yang antara lain menilai tingkat persaingan global suatu negara dari kualitas pendidikan tingginya, pun cuma menempatkan Indonesia di peringkat ke-54 dari 133 negara, yaitu di bawah Singapura (3), Malaysia (24), Cina (29),Thailand (36), serta India (49). Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, jumlah sarjana yang belum bekerja per Februari 2009 hampir mencapai 13% dari total jumlah penganggur, atau sekitar 1,2 juta orang.

Menurut Country Director British Council Indonesia Keith Davies dalam seminar membahas peluang dan tantangan kerjasama internasional di Jakarta, Sabtu lalu (14/11), kerjasama antara universitas di Indonesia dengan perguruan tinggi luar negeri yang lebih berpengalaman bisa dilakukan melalui Double Degree, Franchise atau Staff Exchange.

Sayangnya, di kata dia, bidang ini pun Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangganya. Sebuah penelitian di Inggris menemukan, saat ini terdapat 270,000 mahasiswa asing yang mengambil double degree di sana. Dari jumlah itu, Malaysia, Singapura, Hongkong, dan India menyumbang hampir setengahnya.

Kesiapan universitas

Mahasiswa asing yang universitasnya menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi Inggris bisa meraih diploma ganda sekaligus mendapatkan salah satu pendidikan terbaik di dunia. Menurut The-QS World University, peringkat 5 besar universitas terbaik dunia saat ini didominasi oleh 4 perguruan tinggi Inggris yaitu University of Cambridge, University College London, Imperial College London, dan University of Oxford.

Untuk itulah, lanjut Davies, mulai tahun depan pemerintah Inggris melalui British Council menyediakan bantuan "Prime Minister Initiative 2: Collaborative Programme Delivery" hingga sebesar 1,2 juta poundsterling bagi perguruan tinggi di Indonesia. Dana itu, kata dia, dipergunakan untuk membangun kerjasama internasional hingga dua tahun berikutnya.

Sejak dicanangkan pada 2006 lalu, program Prime Minister Initiative ini berhasil membiayai 235 kerjasama penelitian, pelatihan dosen, pertukaran mahasiswa, dan beasiswa antar universitas di seluruh dunia.

"Melalui kemitraan ini kami berharap dapat mewujudkan internasionalisasi dunia pendidikan yang lebih luas lagi. Program ini sebagai pembuka jalan untuk kemitraan antar lembaga pendidikan kedua negara," ujar Davies.

Dia menambahkan, sudah ada beberapa perguruan tinggi yang sukses membangun kerjasama dengan Inggris. Sebutlah misalnya, kata dia, Universitas Bina Nusantara yang bekerjasama dengan Northumbria University untuk Design Studies dan dengan Bournemouth University untuk Tourism & Hospitality. Contoh lainnya adalah Universitas Indonusa Esa Unggul, yang bermitra dengan Heriot Watt untuk Management Programme.

Mahasiswa jurusan desain Bina Nusantara, ujar Keith, bisa belajar dan mendapatkan gelar dari Northumbria, --kampus yang menelorkan Jonathan Ives, si perancang iPod dan iPhone yang tersohor itu. Sementara itu, mahasiswa di bidang pariwisata pun bisa mendapatkan gelar dari Bournemouth yang belum lama ini menginvestasikan 1.5 juta poundsterling untuk fasilitas teknologi komunikasi dan informasinya.

Menanggapi hal itu, Dekan Program Binus Internasional Minaldi Loeis mengatakan, bahwa segalanya kembali pada pengelola lembaga pendidikan itu sendiri.

“Tantangannya justru ada pada kesiapan universitas dalam menjalankan visi, komitmen, pemasaran, serta manajemen programmya,” tutur Loeis.

Dia menambahkan, biaya sebetulnya bukan menjadi kendala. Walaupun Binus menaikkan biaya pendidikan internasionalnya hingga 10 persen demi menjaga kualitas, lanjut Loeis, jumlah mahasiswa yang mendaftar setiap tahunnya mengalami kenaikan antara 10 sampai 20 persen.

LTF
Sumber :
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/11/16/12133939/kualitas.pendidikan.tinggi.indonesia.tertinggal.jauh
16 November 2009
Sumber Gambar:
http://www.dikti.go.id/Archive2007/kpptjp/tetra_h.gif

DNA pendidikan tinggi Indonesia

Istilah DNA (deoxyribonucleic acid) sebenarnya bukan hal yang baru baik di kalangan medis dan akademisi maupun awam. Apalagi pada tayangan sinetron di televisi banyak alur ceritanya yang menyangkut DNA dengan problematika garis keturunan untuk harta warisan.


Di dalamsel, DNAumumnyaterletak di dalam inti sel. Secara garis besar, peran DNA di dalam sel adalah sebagai materigenetik. Artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme, kecuali beberapa jenis virus, dan virus tidak termasuk organisme.

Rhenald Kasali dalam Re-Code Your Change DNA telah mengupasDNA sebagai unsur pembawa sifatyang berbentuk molekul yang menyimpan informasi tentang seseorang, informasi tersebut tersimpan dalam bentuk sandi berupa kodon/kode genetik. Wikipedia.com pada sesi ensiklopedia bebas menyebutkan bahwa DNA adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering setiap orgnanisme.

Kompas.com pada beritanya pernah menyebutkanbahwaDNAjugabisadisorot dari sisi Psikologi. Apa manfaatnya? Ternyata DNA bisa dioptimalkan untuk membangkitkan potensi diri. Setiap manusia memiliki DNA/gen yang mempunyai potensi serupa. Memberikan pengaruh positif atau negatif, bagaimana pengaktifan oleh masing-masing individu.

Perbedaannya hanya karena masing-masing punyapilihan dan keinginan yang berbeda. Selain itu disebabkan oleh masih adanya gen yang padat dan belum mencair sehingga perlu di “on” kan. Maka berapapun usianya, setiap manusia mempunyai potensi dan kesempatan.

DNA pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi atau kampus sebagai agent of changes diharapkan memiliki DNA positif yang akan melahirkan perubahan perubahan luar biasa bagi Indonesia . Para akademisi seharusnya melakukan Tri DharmaPerguruan Tinggiyangterintegrasi. Hakikat pembangunan nasional adalah pembangunanmanusiaIndonesiaseutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia .

Dengan memperhatikan perkembangan dunia yang begitu pesat maka pembentukan para akademisi yang ber- DNA positif menjadi salah satu tujuan Pendidikan Tinggi. Mungkin langkah awal dapat dilakukan dengan cara lebih mudahnya menerimadan menyesuaikan diri kepada perubahan- perubahan, lebih ahli dalam menyatakan pendapat, memiliki rasa tanggungjawab, lebih berorientasi kepada masa depan, lebih mempunyai kesadaran mengenai waktu, organisasi, teknologi dan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Dalam kaitan pembentukan para akademisi yang ber-DNA positif itulah kita melihat betapa pentingnya peranan perguruan tinggi sebagai jenjang tertinggi dalam sistem pendidikan formal.Pendidikan tinggi hendaknya dapat menghasilkan tenaga-tenaga ahli dan dapat pula mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagai lembaga yang melaksanakan pendidikan tinggi dengan tiga fungsi utamanyayaitu: Pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian pada masyarakat (Tri Dharma Perguruan Tinggi) harus dikembangkan secara simultan danterintegrasi.

Pendidikan dan pengajaran
Pengertian pendidikan dan pengajaran disini adalah dalam rangka meneruskan pengetahuan atau dengan kata lain dalam rangka transfer of knowledge ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan melalui penelitian oleh para akademisi di pergurun tinggi.

Dalam pendidikan tinggi dinegara kita dikenal dengan istilah strata, mulai dari strata satu (S-1) yaitu merupakan pendidikan program sarjana, strata dua (S-2) merupakan program magister, dan strata tiga (S-3) yaitu pendidikan doktor dalam sutau disiplin ilmu, serta pendidikan jalur vokasional/non gelar (diploma).

Jika kita perhatikan DNA yang sedang berkembang pada etos pendidikan dan pengajaran perguruan tinggi di Indonesia dewasa ini, dapat kita lihat bahwa pendidikandan pengajaran yang berlangsung dikelas kebanyakan dilakukan sebatas text book tanpa pengembangan ilmu yang memadai. Terkadang para dosen melakukan pengajaran tanpa mengupdate perkembangan ilmu di bidangnya.

Lebih miris lagi jika ada akademisi atau para dosen yang menganggap mengajar hanya sebatas kewajiban, yang jika sudah terpenuhi jam yang ditentukan maka berakhir sudah kelas tersebut. Kurikulum yang disajikan pada perkuliahan masih standar lama dan kini mungkin terberat di dunia.

Namun tidak memenuhi kebutuhan kerja atau dunia industri yang sekarang ini terus berkembang. DNA-DNA ini yang harus kita leburmenjadi molekul-molekul pintar untuk
perubahan ke sistem pengajaran yang lebih up to date.

Penelitian dan pengembangan
Kegiatan penelitian dan pengembangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka kemajuan ilmupengetahuan dan teknologi. Tanpa penelitian, maka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi terhambat.

Penelitian tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi harus dilihat keterkaitannya dalampembangunan dalam arti luas. Artinya penelitian tidak semata-mata hanya untuk hal yang diperlukan atau langsung dapat digunakan oleh masyarakat pada saat itu saja, akan tetapi harus dilihat dengan proyeksi ke masa depan.

Dengan kata lain penelitian di perguruan tinggi tidak hanya diarahkan untuk penelitian terapan saja, tetapi juga sekaligus melaksanakan penelitian ilmu-ilmu dasar yang manfaatnya baru terasa penting artinyajauh dimasa yang akan datang. Di kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia masih sangat terbatas hasil penelitian yang berkualitas yang di publishdari para dosen yang terkait dengan perkembangan ilmu yang dibidanginya.

Penelitian dilakukan terkadang hanya sebatas mengejar angka kredit, tanpa mempertimbangkan sumbsangsihnya ke masa yang akan datang. Rendahnya kesadaran akademisiuntuk mengikuti seminar, loka karya atau workshop untuk pengembangan ilmu danwawasan bidangnya. Jangankan untuk seminar yang harus mengeluarkan beberapa rupiah, bahkan untuk acara pengembanganilmu yang bersifat gratis saja terkadang sangat sulit untuk menghadirkanpeserta.

Tapi jika ada iming-iming sertifikat, maka semangat untuk mengikuti acara tersebut akan meningkat. DNA seminar sebatas sertifikat? Luar biasa. Apalagi jika hal ini nyata terjadi di beberapa perguruan tinggi negeri yang seharusnya menjadi icon perguruan tinggi sekitarnya.

DNA seperti ini dapat dirubah apabila terdapat pemahaman akan pentingnya penelitian dan pengembangan, minimal anggapan bahwa penelitian itu adalahsesuatu yang sangat asyik. Berangkat dari situ, perlahan kode genetika kita mulaihidup untuk lebih hidup lagi ke tahap tujuanpenelitian yang lebih spesifik dan relevan.

Pengabdian pada masyarakat
Dharma pengabdian pada masyarakatharus diartikan dalam rangka penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dikembangkan di perguruan tinggi, khususnyasebagai hasil dari berbagai penelitian. Pengabdian pada masyarakat merupakanserangkaian aktivitas dalam rangka kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat yang bersifat kongkrit dan langsung dirasakan manfaatnya dalam waktu yang relatif pendek.

Aktivitas ini dapat dilakukan atas inisiatif individu atau kelompok anggota sivitas akademika perguruan tinggi terhadap masyarakat maupun terhadap inisiatif perguruan tinggi yang bersangkutan yang bersifat non profit (tidakmencari keuntungan). Dengan aktivitas ini diharapan adanya umpan balik dari masyarakat keperguruan tinggi, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lanjut.

Namun jika dilakukan observasi terhadap DNA pengabdian di institusi pendidikan tinggi di Indonesia, masih begitu rendahkesadaranparaakademisiterhadap kontribusi langsung ke masyarakat. Perubahan DNA sederhana mungkin bisa dilakukan dengan merangsang diri untuk berbuat sesuatu yang tulus terhadap pengabdian tersebut.

Sebagai contoh kecil: para akademisi melakukan pelatihan terhadap guru-guru disekolah sesuai denganbidangnya, atau para akuntan memberikan pelatihan pembukuan sederhana bagi usah kecil menengah. Dengan melakukan hal kecil tersebut mungkin akan memberikan dampak besar bagi peserta pelatihan dan berkontribusi bagi anak didik dan masyarakat luas.

DNA seperti yang telah diuraikan diatas merupakan informasi diri berupa kode genetik yang menyimpan cetak biru bagi segala aktifitas sel. Berapapun usia manusianya atau apapun institusinya mempunyai kesempatan dan potensi yang sama. Begitu juga dunia pendidikan tinggi yangberpotensi dan berkesempatan bahkan sebuah keharusan untuk mengaktifkan DNA positifnya.

Karena DNA pendidikan tinggi di Indonesia sekarang ini masih jauh dari makna yang terangkum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi itu sendiri. Harapan kedepan, habit DNA dunia pendidikan tinggi di Indonesia dapat berubah menjadiDNA-DNA cerdas aktif, berwawasanluas dan mempunyai tekad untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Sumber :
Esa Setiana,  alumni Program Pascasarjana USU
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=68475:dna-pendidikan-tinggi-indonesia&catid=25:artikel&Itemid=44
23 November 2009

Monday, 25 May 2009

Pendidikan Tinggi Dan Daya Saing Bangsa


Dalam rangka menghadapi era global, maka “keunggulan kompetitif” suatu negara terhadap negara lainnya adalah menjadi faktor penentu agar mampu bertahan, berperan, dan bersaing. Globalisasi adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari.

Kampus ITS, ITS online - Dimulai dari globalisasi di tingkat regional Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 antara Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Phillipina, dan berlanjut hingga antar Blok – Blok Perekonomian Dunia (MEE, AFTA, NAFTA, MEA), maka dampak globalisasi memacu lembaga Pendidikan Tinggi termasuk ITS untuk meningkatkan kualifikasinya.

Makna Daya Saing

Frasa “keunggulan kompetitif” tersebut bisa kita terjemahkan dalam 2 (dua) hal, pertama : memenuhi kebutuhan diri sendiri (tidak tergantung kepada negara lain), dan kedua : mampu berkompetisi dalam memenuhi kebutuhan negara dan bangsa lain. Keunggulan kompetitif pertama tersebut kita sebut selanjutnya sebagai KEMANDIRIAN, sedangkan keunggulan kompetitif kedua kita sebut selanjutnya sebagai KEMANDRAGUNAAN.

Baik KEMANDIRIAN maupun KECERDIKAN sangat diperlukan dalam membangun daya saing suatu bangsa. Suatu bangsa akan berdaya saing tinggi bila bangsa tersebut MANDIRI, baik secara ekonomi maupun budaya. Artinya, segala pemenuhan kebutuhan ekonominya mampu dipenuhi oleh sumber-sumber ekonominya sendiri. Demikian juga budayanya, dimana bangsa tersebut menganut budaya-budaya berdasarkan nilai-nilai anutan (guiding value) yang tidak terinfiltrasi budaya negatif asing. Dengan demikian, maka KEMANDIRIAN membutuhkan “kesederhanaan” dan “keberanian” anak bangsa dalam mempertahankan dan memperjuangkan kekuatan ekonomi, dan budaya sendiri. Swadesi atau semangat menggunakan produk dalam negeri (buatan sendiri) yang diterapkan Mahatma Gandhi adalah salah satu contoh usaha kemandirian menghadapi perang ekonomi bangsa penjajah.

Contoh bagus dari Indonesia ditunjukkan oleh Menkes Siti Fadilah Supari , dalam hal prosedur sharing virus Flu Burung melawan dominasi lembaga penelitian virus Amerika Serikat yang berlindung dibalik WHO, dengan mengatakan : “Anda sebagai negara maju memang menguasai teknologinya, tapi kami di Indonesia memiliki virusnya dan rakyat kami yang menjadi korban. Silahkan tempelkan teknologi itu di jidat anda, apakah ia dapat menghasilkan sesuatu tanpa virus dari Indonesia”. Keberanian semacam ini adalah merupakan bibit KEMANDIRIAN untuk berbagi kekuatan ekonomi melalui penelitian teknologi yang dilakukan bersama-sama antara negara maju dengan yang belum maju. Contoh lain adalah tuntutan negara tropis di Asia, termasuk Indonesia, yang berani meminta kompensasi alih teknologi industri negara maju dalam hal penanggulangan pemanasan global, tidak sekedar mendapatkan insentif emisi , yang kemudian waktu harus mengeluarkan banyak uang ketika negara maju telah mampu menciptakan teknologi industri yang ramah lingkungan.

Bila KEMANDIRIAN telah menjadi suatu karakter dan semangat bangsa yang independen dan memiliki keberanian, maka langkah berikutnya adalah menguatkan semangat kemandirian tersebut menjadi keunggulan kompetitif yang benar-benar riil, yaitu KEMANDRAGUNAAN, suatu keunggulan daya saing yang berbasis Intelectual Capital. Bila daya saing KEMANDIRIAN membutuhkan suatu pembangunan karakter anak bangsa, maka daya saing KEMANDRAGUNAAN membutuhkan pengembangan sistem pendidikan (selain sistem kesehatan dan distribusi pendapatan nasional) yang mampu menghasilkan anak bangsa berkualitas tinggi.

Pendidikan disetiap tahapan menjadi hal penting dalam peningkatan daya saing bangsa. Pendidikan karakter untuk daya saing KEMANDIRIAN dibentuk mulai dari tahapan pendidikan Dasar hingga Menengah (DIKDASMEN), dan menjadi tanggung jawab bersama guru disekolah maupun orang tua. Pada tahapan inilah, anak bangsa dilatih agar mempunyai karakter independen dan keberanian. Pada negara-negara OEDC dengan ranking tinggi, seperti Finlandia, Jepang dan Singapore, lulusan SLTA nya telah mempunyai tingkat kemandirian tinggi, sehingga dapat dengan mudah diolah oleh Pendidikan Tinggi berikutnya.
Pendidikan tinggi sebagai bagian akhir dari proses peningkatan daya saing ini akan sangat menentukan peran dalam meningkatkan daya saing ekonomi suatu bangsa dan negara, sekaligus mengentaskan kemiskinan yang sekarang ini menjadi “program” populer negara berkembang dimanapun, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem Pendidikan Tinggi yang mampu menghasilkan lulusan yang berdaya saing global sebagaimana tuntutan skenario globalisasi (minimal ditingkat ASEAN 2015) yang tidak bisa kita hindari.

Pengembangan Kompetensi PT

Selain pembagian kompetensi lulusan yang jelas antara jalur pendidikan akademis (S1,S2,dan S3) dengan pendidikan vokasi (diploma, Poltek), maka dibutuhkan kurikulum yang menyeimbangkan antara kompetensi “hard skill” dengan “soft skill” yang mengakomodasi aspek teknis dan spirit teknopreneurship. Dalam penerapannya, kurikulum bermuatan teknopreneurship ini membutuhkan tim pengajar yang seharusnya mampu menjadi fasilitator dari pembelajaran aktif mahasiswanya. Dengan kata lain, pengajar harus di-teknopreneurkan dahulu sebelum menteknopreneurkan mahasiswanya.

Permasalahan yang terjadi dari penerapan ini adalah keyakinan dari kebanyakan pendidik bahwa “nature” dari seorang pendidik yang sifatnya melayani adalah berbeda dengan “nature” teknopreneur yang lebih bersifat profit making. Meskipun demikian, kita bisa meniru pengalaman yang diambil oleh pemerintah Singapore, dimana PT nya menyeimbangkan antara pengajaran, penelitian, dan aplikasi komersialnya. PT di Singapore selalu melakukan penelitian dengan syarat bahwa penelitian tersebut haruslah mampu dikomersialkan melalui kerjasama yang baik dengan industri (Laporan Tahunan 2004). Konsep integrasi ini diperkenalkan Singapore dengan istilah Teknopreneurship Education, yaitu mendidik mahasiswa dengan output intelektual yang layak jual dan berdaya saing tinggi.

Mengawali langkah seperti ini, maka PT bisa memulainya dengan memilih kendaraan “pengakuan internasional” nya melalui sisi kompetitif (daya saing) ekonomi negara, bukan sekedar sisi “komparatifnya” saja. Misalnya, pemilihan sastra jawa dan musik tradisional daerah tertentu sebagai kendaraan “ranking internasional” suatu PT di Indonesia memang dari sisi komparatif adalah pilihan jitu, tetapi hanya menghasilkan sedikit dampak ekonomisnya bagi daya saing bangsa. Pemilihan “renewable energi” bagi kendaraan “pengakuan internasional” PT di Indonesia yang beriklim tropis, akan lebih berdampak ekonomis dimasa mendatang meskipun dibutuhkan daya juang tinggi untuk bersaing dengan yang lain.

Pengembangan Bidang Studi Yang “Marketable”

Penyediaan bidang studi yang dibutuhkan pasar domestik hingga yang menjadi trend bagi kebutuhan pasar global adalah sangat penting untuk mencapai KEMANDRAGUNAAN . Pencapaian Visi Pendidikan Indonesia 2025 atau Visi Indonesia Emas 2050 perlu menggabungan antara “kearifan lokal”, yaitu keunikan potensi SDA daerah dengan peningkatan kapabilitas SDM. Sebagai contoh, bila suatu daerah mempunyai potensi jamu herbal dan SDM terampil yang banyak terlibat dalam industri rumahan, maka sudah selayaknya PT di daerah-daerag mengalokasikan dana risetnya untuk modernisasi dan memperkuat aspek pemasaran dari jamu herbal tersebut. Dengan demikian, maka dana riset PT tersebut akan menjadi stimulus bagi pengembangan potensi bisnis daerahnya, sesuai dengan “potensi lokal” masing-masing, sehingga pada akhirnya secara agregat akan mampu memberikan kontribusi nasional. Selain dana riset PT, maka seharusnya dana riset dari departemen-departemen teknis non Pendidikan sudah seharusnya dialokasikan melalui kerjasama penelitian PT, mengingat bahwa kompetensi penelitian adalah pada PT. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sudah melakukan hal tersebut, demikian juga dengan Departemen Perindustrian yang membangun pusat riset perkapalannya yang megah dan lengkap, yaitu NASDEC, di ITS.

Bila kita mau melakukan hal yang lebih idealis lagi, maka dimasa datang kita juga harus mulai mengembangkan bidang – bidang riset yang visioner dan sesuai kebutuhan masa depan , yaitu berupa ”newest engineering”, seperti bioteknologi, software, hardware dan elektronik, IT dan jasa Internet. Industri bioteknologi misalnya adalah merupakan bidang yang produktivitasnya tertinggi dengan nilai Profit Per Employee (PPE) rata – rata sebesar USD 278.000, sedangkan industri semikonduktor sebagai bagian dari kelompok hardware mempunyai nilai rata – rata PPE sebesar USD 268.000. Nilai PPE yang tinggi tersebut mencerminkan tingkat demand yang tinggi dengan tingkat suplai pemain di industri tersebut yang masih jarang. Nilai PPE yang tinggi secara tidak langsung akan menunjukkan tingkat produktivitas dan daya saing yang tinggi secara ekonomis, sehingga menjadi peluang bagi PT untuk menyediakan tenaga handal.
Peningkatan Kerjasama dan Kompetensi Global

Peningkatan jejaring yang lebih kuat dapat dilakukan dengan memperkuat kerjasama dengan PT ditingkat global, baik regional Asia maupun Internasional. Kerjasama ini bisa berupa pertukaran mahasiswa, kerjasama penelitian, hingga pertukaran pengajar. Kerjasama ini bermanfaat untuk meningkatkan akses penyaluran lulusan adalah karena PT Indonesia akan dikenal oleh perusahaan pengguna dari partner PT Asing tersebut. Namun perlu diingat bahwa diperlukan kesamaan “bahasa” tentang pengakuan kompetensi lulusan PT kita, yaitu melalui sertifikasi Internasional seperti Washington Accord, sertifikasi programming Java (SUN Microsystem), Axapta (ERP nya Microsoft), dan lain-lain hingga sertifikasi profesi nasional yang berlaku untuk tingkat Asia yang dikeluarkan asosiasi profesi seperti IAI (arsitektur),HAKI dan LPJK (Konstruksi) dll.

Oleh karena itu, maka sudah seharusnya PT yang kompeten di Indonesia mulai memikirkan “percepatan” sertifikasi Internasional dan memperkuat kerjasamanya dengan asosiasi profesi sebagai bagian dari penguatan jaringan maupun penguatan kompetensi lulusannya di era global, minimal untuk menghadapi tantangan eksternal kedepan dengan dimulainya liberalisasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai tahun 2015 antara Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Phillipines. Dengan KEMANDIRIAN dan KEMANDRAGUNAAN, maka kita akan mampu menjadi “pemain” dipentas global, tidak sekedar penonton. Diperlukan dukungan secara sistemik dari Negara sebagai “fasilitator sistem” dan segenap komponen bangsa (akademisi, mahasiswa, politikus, pengusaha, dll) untuk bisa mencapai harapan tersebut. Majulah negaraku, sentosalah bangsaku (PS) (15 Maret 2008)

Sumber :
Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD, Rektor ITS
http://ww.its.ac.id/berita.php?nomer=4464
25 Mei 2009

Sumber Gambar:
http://www.ia-itb.com/modules/event/images/WEF%2008-09_Cover.jpg